5 Pelajaran Penting tentang Hidup dari Film ‘La La Land’

“City of stars, are you shining just for me?”

Buat yang sudah nonton film La La Land, pasti kenal banget dengan potongan syair di atas. Ya, syair itu adalah potongan dari lagu ‘City of Stars’ yang berkali-kali dimainkan sepanjang film. Lagu ciptaan Sebastian (Ryan Gosling) itu jadi pengingat buat rentetan scene romantis (juga yang enggak romantis) di dalam film tersebut.

Mungkin buat sebagian orang, film La La Land cuma film musikal bergenre romantic comedy, bercerita tentang dua orang yang jatuh cinta begitu saja dengan segala kekurangan yang mereka miliki dan sama-sama berusaha menggapai apa yang selama ini mereka impikan. Tapi kalau kita perhatikan dengan seksama, banyak banget hal yang bisa kita dapatkan dari film tersebut.

Bukan mau ngomongin tentang apa pelajaran moral yang bisa kita ambil, tapi setidaknya ini 5 pelajaran untuk meraih mimpi yang bisa bikin kita (atau saya doang, ya?) berpikir, “Anjing, ini iya banget!!”

1. Passion over property
Ketika Mia bertemu Sebastian, ia sudah punya kekasih, Greg, yang bisa dibilang jauh lebih mapan dibandingkan dengan Sebastian. Sedangkan Sebastian adalah laki-laki dengan hidup urakan, yang hanya mengandalkan hidup pada kecintaannya akan musik jazz. Ia memiliki mimpi besar kelak akan memiliki jazz club yang akan dipadati oleh para pecinta musik jazz seperti dirinya.

Meski Sebastian yang saat itu belum punya apa-apa, ia bisa membuat Mia jatuh hati karena Sebastian memiliki passion dan mimpi yang besar tentang masa depannya. Saat itu mungkin mimpi Sebastian masih terdengar konyol dan ngawang-ngawang, tapi Mia tidak peduli. Ia bisa melihat bahwa ia telah menemukan orang yang bisa mendampingi dan mendukung dia untuk mewujudkan mimpinya.

Mungkin kalau ia bertahan dengan Greg, ia tidak akan bisa menjadi akrtis terkenal seperti yang ia inginkan selama ini. Mungkin ia akan menjadi sosialita yang kerjanya datang ke pesta untuk hura-hura.

2. Modal nekat
Nekat ninggalin pacar yang sudah mapan. Nekat berusaha meraih mimpi bersama. Nekat keluar dari kerjaan demi mengejar mimpi.

Terkadang untuk mendapatkan hal yang kita mau, kita harus bermodalkan tekad…dan nekat. Seperti ketika Mia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di kedai kopi agar bisa fokus mempersiapkan monolog show-nya, atau ketika ia meninggalkan acara makan malam dengan kekasihnya untuk bertemu Sebastian, atau ketika Sebastian nekat keluar dari zona nyamannya demi kemapanan dengan jadi pianis di band temannya (yang sepertinya ia keluar juga dari band tersebut).

Nekat tinggalin rutinitas. Nekat tinggalin zona nyaman. Nekat meninggalkan yang selama ini jadi milik kita untuk meraih mimpi.

3. Soulmate enggak sama dengan pasangan hidup
Saya pernah baca sebuah artikel dari Huffington Post yang mengatakan kalau sebaiknya kita enggak menikahi soulmate kita. Lho? Bukannya pasangan atau suami kita itu adalah soulmate kita? Hmm…ternyata belum tentu untuk sebagian orang dan hal ini terjadi di antara Mia dan Sebastian. Mereka kurang serasi apa lagi, sih? They were meant for each other!

Jadi apa itu soulmate? Kalau menurut penulis artikel tersebut, “(Soulmate) is the person who drives you wild, they awaken every part of you, they bring out a jealous and protective nature that has never been experienced before.” Hmm…menarik.

Di artikel tersebut juga dibilang walaupun hasrat dan cinta dengan soulmate kita bisa begitu memabukkan, tapi kalau diteruskan, bisa-bisa hubungan tersebut menjadi toxic. Jadi, bisa disimpulkan kalau enggak selamanya orang yang kita rasa adalah soulmate harus menjadi pasangan hidup kita. Bisa dijadikan sahabat, atau orang yang memberi kita pelajaran hidup saja.

4. Dreams > Relationship
Di saat orang berlomba-lomba menikah dengan pasangannya, kisah cinta Mia dan Sebastian justru menyajikan keadaan yang sebaliknya. Mereka memiliki mimpi  dan ambisi yang sama besar. Mereka tahu apa yang mereka mau. Sehingga di akhir cerita, mereka memutuskan untuk berpisah dan mengejar mimpi masing-masing. Mimpi mereka terwujud. Lima tahun kemudian, Sebastian memiliki jazz club yang ia inginkan dan Mia menjadi aktris terkenal.

Kenapa, sih, enggak menggapai mimpi bersama-sama? Bukannya akan lebih menyenangkan? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Sebelum film berakhir, ada scene yang menggambarkan alternative ending untuk kisah mereka berdua, yaitu mereka akhirnya menikah, Mia menjadi aktris, dan mereka hidup bahagia dengan memiliki satu orang anak. Lalu Sebastian? Sebastian tetap berkecimpung dengan musik jazz-nya, hanya saja jazz club yang ia mimpikan tidak ada dalam alternative ending itu.

Jadi kenapa harus berpisah? Karena harus ada yang kita korbankan di dalam hidup. Kenyataannya, kita enggak bisa selalu mendapatkan apa yang kita mau. Untuk mendapatkan A, kita mau enggak mau harus lepaskan yang B. Untuk menggapai apa yang kita impikan, mengorbankan hubungan dengan pasangan mungkin saja terjadi. Bukan hal yang aneh, kok, kalau prioritas kita adalah mewujudkan impian, ambisi, cita-cita, karier, atau apalah namanya. Bukan hal yang mengejutkan juga kalau ternyata pacaran atau pernikahan tidak menjadi prioritas dalam hidup. Ada kalanya mewujudkan mimpi terpendam itu lebih penting dari hal lain.

5. Reality sucks. Deal with it.
Jleb. Itu yang saya rasakan ketika ada seorang teman yang berkata demikian saat saya berkeluh kesah soal quarter life crisis. Begitu juga ketika saya selesai nonton La La Land. Biasa disuguhkan dengan film romcom yang berakhir bahagia (atau kalau sedih pun, pasti ketebak), ketika harus menelan bulat-bulat ending film yang membuat hati luluh lantak, saya pun enggak siap. Tapi mau enggak mau, saya harus mengakui kalau apa yang terjadi di La La Land itu bisa terjadi oleh siapa saja.

Keberesengkan semesta mempermainkan hidup manusia begitu rupa itu bisa saja terjadi pada saya, kamu, atau siapa pun. Lalu yang bisa kita lakukan apa? Merengek minta dikasihani enggak akan bikin hidup lebih baik, sih. Satu-satunya cara yang terima aja kalau hidup kadang ‘lucu’ dan pilihan kita yang ketawa bareng atau bikin komedi yang lebih lucu dari hidup itu sendiri.

“I’m letting life hit me until it gets tired. Then I’ll hit back. It’s a classic rope-a-dope.” (Sebastian)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s