Bayangan Liar Manusia

Beberapa waktu lalu, saya bergabung dengan sebuah komunitas menonton bersama film produksi tahun 1968. Film lawas tersebut berjudul Planet of The Apes. Bayangan atas eksistensi serta kekuatan maha sempurna manusia tersaji apik pada film tersebut. Diklaim ber-genre science fiction, karya ini disutradarai oleh Franklin J. Schaffner dan dibintangi oleh Charlton Heston yang pernah berperan pada film Ben Hur, peraih 11 Academy Awards pada tahun 1960.

Jika dibandingkan dengan beberapa karya serupa pada zamannya, film ini cukup realistis namun futuristik. Dua hal yang saling bersebrangan tersebut dapat dilihat pada awal film yang menampilkan adegan sebuah pesawat ulang-alik dalam sebuah misi pencarian planet baru. Sajian interior pesawatnya berwarna khas 60an yang soft dengan sentuhan beberapa sudut tajam. Hal ini sekali lagi, dapat dilihat sebagai representasi zaman itu. Selain itu, misi pada film ini pada saat tersebut cukup mewakili kesan mimpi di masa depan. Alasan tersebut berdasar pada pengalaman umat manusia yang baru berhasil menapaki ruang luar bumi pada tahun itu.

Hal menarik yang patut disoroti pada film sci-fi berlatar luar angkasa adalah planet yang tandus. Pun planet tersebut berair, bayangan sineas saat itu terhadap kondisi kering di sebagian wilayah planet itu diberi jatah cukup luas. Mari kita berhenti sejenak dan mengingat latar 2001: A Space Oddyssey di sebuah planet (Mars-red.) Tidak seperti bumi dengan segala hehijauannya, beberapa planet pada film masa itu digambarkan dengan medan padang pasir. Pada beberapa adegan di film ini pun, aksi penelusuran planet baru yang mereka temukan, padahal bumi juga, tampak berlebihan. Padahal, bisa saja mereka menuruni bukit dengan upaya yang lebih santai, namun terlihat pada film ini sebaliknya.

Beralih ke saat mereka, ketiga tokoh utama yang selamat, akhirnya berhasil menemukan sosok-sosok manusia dan serupa kera. Plot cerita ini menceritakan dua makhluk serupa yang bertukar peran dengan saat mereka kembali ke dunia, manusia bertindak sangat liar dan kera sangat bereadab. Bagi saya pribadi lucu menyaksikan kedua hal ini disajikan apik oleh Schaffner, namun seliar-liar manusia tetap tidak setelanjang kera di bumi nyata. Para kera digambarkan berkoloni teratur dengan segala kepercayaan mereka. Tindakan mereka di film ini memberikan kesan seperti sindiran bagi pihak-pihak berkuasa di dunia nyata tempat kita tinggal. Hal tersebut karena mereka masih percaya dengan mitos lawas yang telah dibantah kebenarannya dengan fakta kehadiran sosok manusia yang ternyata sama saja dengan mereka yang datang dari ‘bumi yang lain’. Menurut saya pribadi, sekali lagi, pandangan kaum kera di film ini serupa dengan pandangan non kritis para elit kulit putih pada tahun 60an ke belakang yang masih percaya bahwa kulit hitam tidak sederajat dengan mereka. Kemudian secara sengaja atau tidak, pada tahun yang sama, gerakan yang dipiloti oleh Martin Luther King. Jr hadir membalikan kondisi serupa dengan inti cerita pada film ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s